Apa Itu Skin Microbiome
Skin Microbiome adalah kumpulan mikroorganisme yang hidup secara alami di permukaan kulit manusia. Mikroorganisme ini mencakup bakteri, jamur, virus, dan makhluk hidup mikroskopis lainnya. Meski terdengar menyeramkan, sebagian besar dari mereka justru bersifat komensal, artinya hidup berdampingan dengan manusia dan memberikan manfaat (Niedźwiedzka et al., 2024) Skin microbiome berperan krusial dalam menjaga homeostasis kulit, melindungi dari patogen/bakteri jahat, serta mengatur respons imun bawaan dan adaptif (Oh, J., & Voigt, A. Y., 2025).

Mengenal Mikroorganisme Yang Hidup Di Kulit
Menurut Ogai et al. (2022) Kulit bukanlah lingkungan yang steril. Justru, keragaman mikroorganisme inilah yang membuatnya sehat. Secara ilmiah, mikroorganisme utama yang ditemukan di kulit meliputi:

  • Bakteri komensal, seperti Cutibacterium, Staphylococcus, dan Corynebacterium
  • Jamur, terutama dari genus Malassezia
  • Virus dan mikroorganisme mikroskopis lainnya

Dalam kondisi normal, mikroorganisme ini hidup dalam keseimbangan yang stabil. Namun, ketika keseimbangan tersebut terganggu akibat stres, penggunaan produk yang terlalu keras, perubahan hormon, atau penyakit terjadilah kondisi yang disebut dysbiosis. Pada tahap ini, mikroorganisme yang sebelumnya tidak berbahaya dapat memicu masalah kulit.

Peran Microbiome Dalam Kesehatan Kulit
Mengapa Skin Microbiome Sangat Penting?

  1. Penghasil Zat Antimikroba Alami: beberapa mikroorganisme kulit mampu merangsang produksi zat antimikroba alami yang membantu menjaga kulit dari infeksi bakteri jahat/patogen (Lee & Kim, 2022)
  2. Mikrobiome atau mikrobioma berperan dalam menjaga pH, keseimbangan lipid, dan hidrasi kulit. Ketika microbiome sehat, lapisan pelindung kulit menjadi lebih kuat, sehingga kulit tidak mudah kering, iritasi, atau sensitif (Prajapati et al., 2025).
  3. Mengatur Respons Imun: Kulit memiliki sistem imun sendiri, dan skin microbiome membantu “mengajari” sistem ini agar bereaksi secara tepat. Artinya, kulit tidak mudah meradang secara berlebihan, tetapi tetap mampu melawan ancaman (Salava & Lauerma, 2014).
  4. Studi ilmiah FK Universitas Brawijaya menemukan hubungan kuat antara dysbiosis microbiome dengan kondisi kulit seperti:
  • Jerawat
  • Dermatitis atopik (eksim),
  • Psoriasis,
  • kulit sensitif dan mudah iritasi.

Bagaimana SIG dapat Membantu?
Sebagai laboratorium pengujian terakreditasi SNI ISO/IEC 17025, SIG menghadirkan layanan screening skin microbiome berbasis Next Generation Sequencing (NGS) untuk mengidentifikasi komposisi mikrobioma kulit secara komprehensif, mulai dari jenis mikroorganisme, tingkat kelimpahan, hingga fungsi genetiknya. Didukung analisis bioinformatika mendalam serta layanan swab sampling langsung pada permukaan kulit, SIG menjadi mitra andal untuk riset, inovasi, dan pengembangan produk berbasis sains.

 

id_IDID