Solo 28-29 Agustus 2019, bertepatan dengan kegiatan 10th International Seminar of Indonesian Society for Microbiology (10th ISISM) dan 12th Congress of Indonesian Society for Microbiology (12th CISM) yang diadakan oleh Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia (PERMI) bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), tenaga ahli dari SIG Laboratory mendapat kepercayaan untuk mengisi dalam salah satu rangkaian acara tersebut yaitu One Day Seminar.

Foto 1. Suasana Seminar Internasional 10th ISISM dan 12th CISM

Acara One Day Seminar ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan 10th ISISM dan 12th CISM dimana terdapat kelas kecil yang dibagi dalam 2 hari berbeda (28 & 29 Agustus 2019). Pada tiap harinya akan ada materi sharing yang beragam dari narasumber yang ahli dibidangnya.

Materi menarik di hari pertama diawali oleh pemaparan Bapak Prof. Ir. Sukoso, M.Sc. Ph.D selaku kepala BPJPH (Badan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal) perihal urgensi penjaminan produk halal yang dimuat dalam UU No. 33 tahun 2014.

Dalam upaya melakukan sosialisasi sertifikasi produk halal tersebut, BPJPH terus menggandeng sejumlah pihak termasuk lembaga-lembaga perguruan tinggi dengan halal centernya mengingat lembaga tersebut bisa langsung bersentuhan dengan UMKM.

Pak Sukoso mengatakan, selama ini produk yang memiliki sertifikat produk halal masih sedikit yaitu sekitar 2 persen, karena selama ini sifatnya masih sukarela. Tetapi dengan diberlakukannya Undang-undang Jaminan Produk Halal per 17 Oktober 2019, maka seluruh produk harus bersertifikat halal guna memenuhi ketentuan tersebut.

Selain pemaparan materi terkait pemberlakuan regulasi halal oleh BPJPH, materi lain seperti pembahasan SNI Sistem Manajemen Halal dan RSNI Metode Uji Otentifikasi Halal juga dipaparkan oleh perwakilan dari BSN yaitu Bapak Dr. Wahyu Purbowasito Setyo Waskito.

Dan pada sesi terakhir, SIG Laboratory yang diwakili oleh Bapak Dwi Lulu Agus Mulyana, S.Si memberikan pemaparan dari segi teknis terkait teknik pengujian produk untuk mengetahui atau tidaknya kandungan babi.

Foto 2. Dwi Lulu Agus Mulyana, S.Si selaku pemateri teknik pengujian produk halal

Untuk pengujian kandungan babi sendiri, SIG Laboratory memiliki dua metode yang sudah masuk ruang lingkup akreditasi KAN yaitu meat authenticity menggunakan Real Time Polymerase Chain Reaction (Real time-PCR) dan metode identifikasi gelatine base menggunakan Mass Spectrometry LCMS/MS. Kedua metode tersebut disediakan oleh SIG untuk mengcover jenis matriks yang beragam.

Metode Real time PCR digunakan untuk produk daging dan olahannya serta produk farmasi seperti obat tablet dan bahan baku. Prinsipnya yaitu DNA pada sampel diisolasi dan dipurifikasi, lalu DNA kuantifikasi, dan selanjutnya masuk ke tahap Amplifikasi DNA target (PCR). Sampel-sampel yang menggunakan metode Real time PCR idealnya merupakan sampel dengan DNA yang belum atau tidak rusak.

Metode real time PCR ini tidak berlaku pada sampel seperti gelatine dikarenakean DNA pada gelatine sudah rusak akibat proses denaturasi dalam proses pembuatannya. Produk yang menggunakan bahan baku gelatine seperti soft kapsul, marshallow dan permen gummy merupakan salah satu contoh matriks yang pengujiannya menggunakan metode lain yaitu LCMS/MS (Mass Spectrometry).

Prinsip kerja identifikasi kandungan daging babi dengan metode Mass Spectrometry LCMS/MS ialah dengan melihat marker spesifik untuk Porcine (Babi) dan Bovine (Sapi) sebagai pembeda yang dihasilkan melalui teknik PCA (Principal Component Analysis) menggunakan screening LCMS/MS Qtof. Marker spesifik tersebut selanjutnya dimasukan ke dalam data library LCMS/MS yang akan digunakan sebagai metode MRM pada pengujian.

Dihari selanjutnya, giliran expertise dibidang mikrobiologi Ibu Lisa Amelia, S.Si yang memberikan materi SNI ISO 6579:2015 tentang metode horizontal untuk deteksi Salmonella spp.

Foto 3. Lisa Amelia, S.Si selaku pemateri SNI ISO 6579:2015 Metode Horizontal Untuk Deteksi Salmonella spp.

Definisi Salmonella sendiri ialah bakteri gram negatif berbentuk batang yang merupakan salah satu penyebab infeksi tersering di daerah tropis, khususnya di tempat-tempat dengan higiene yang buruk (Brooks et al, 2001). Pada manusia, Salmonella adalah penyebab 2 (dua) penyakit seperti demam enterik (tifus) dan Gastroenteritis akut.

Berdasarkan laporan ditjen pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari sepuluh penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3.15% (Depkes RI, 2009)

Pada pemaparannya, dijelaskan pula cakupan SNI ini menetapkan metode horizontal untuk mendeteksi Salmonella, termasuk Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi dan berlaku pada produk yang ditujukan untuk konsumsi manusia dan pakan hewan serta sampel lingkungan dibidang produksi pangan dan penanganan pangan.

Foto 4. Foto Bersama Dengan Seluruh Peserta One Day Seminar

Selain menjadi pembicara dalam kegiatan one day seminar tersebut, SIG Laboratory ikut meramaikan kongres 10th International Seminar of Indonesian Society for Microbiology (10th ISISM) dan 12th Congress of Indonesian Society for Microbiology (12th CISM) dengan membuka booth exhibition yang bertujuan memberi penjelasan lebih mendalam pada para peserta kongres serta hal lainnya terkait kebutuhan pengujian.

Foto 5. Pameran Internasional 10th ISISM dan 12th CISM